Q4 2021: A CHANGE OF PACE FOR BAP.?

Kareem Soenharjo, BAP., BAPAK., atau moniker mana pun yang kalian paling doyan dari sang rapper/produser/multi-instrumentalis, sudah semenjak 2018 menjadi nama pertama yang muncul di kebanyakan kepala penggemar musik lokal ketika dipantik kosa kata “hip hop Indonesia”. Pujaan-pujaan tersebut Kareem raih lewat kekompleksan, eksperimentasi-eksperimentasi, dan versatility dalam musik hip-hop-nya. Semenjak rilisnya album ikonik Monkshood (2018), Kareem sebagai BAP. telah merilis satu buah album solo MOMO’S MYSTERIOUS SKIN (2021) dan album kompilasi JAKARTA TENGGELAM (2022). Akhir Agustus 2023 lalu, BAP. kembali keluar dari rumah keongnya dengan single Q4 2021. Lewat akun X (Twitter) @yosubap, Kareem menjelaskan bahwa Q4 2021 akan menjadi satu dari tiga single BAP. yang akan rilis tahun 2023.

BAP. Sebelum Q4 2021

I am and will never be one to say “It’s not for me.” when i’m listening to something i dislike. Although, i’m well aware that things can grow and opinions can change. Now, BAP., sejauh ini masih janggal di telinga gue. Tiga adjektif yang gua tera di paragraf pertama (kekompleksan, eksperimental, dan versatility) itu bukan hasil salinan salah satu press kit Bang Kareem, melainkan kualitas doi yang berhak kita akui. Tapi mungkin ada satu adjektif yang menurut kalian, sebagai pembaca, gue tinggalin. Elemen kata sifat tersebut adalah… inovatif.

Drum-drum organik kompleks dan tekstural, balutan-balutan rhodes berakor jazz/deep house, dan ghost notes pengangkat bounce dari instrumental-instrumental BAP. sebenarnya sejak lama telah menjadi senjata ampuh pemanja telinga semenjak pertengahan 2016, membuat gue merasa BAP. seringnya hanya muter-muter di comfort zone sebelum Q4 2021. Kalian mungkin sering menemukan perlakuan produksi ini di musik-musik KAYTRANADA, Flying Lotus, beat-beat kompetisi streaming Kenny Beats, dan iklan-iklan Uniqlo. Seringnya, track-track dibisingi agenda showcase skill yang membuat mereka jatuh ke taraf overproduced, membuat gue terpental jauh dari keintiman substansi naratif yang BAP. tawarkan. Belum lagi, penyampaian vokal rap BAP. yang sering kali lebih fokus kedengeran ganteng dan usil ala BROCKHAMPTON yang, lagi-lagi, “mementalkan” gue.

Masalah pula gue temukan di imitasi yang bukannya jatuh ke kategori inspirasi, malah lebih mendekati plagiat. Seperti Miasma Tahun Asu (2020) dari BAPAK., proyek campuraduk genre brutal-prog, slacker rock, serta subgenre rock artsy lainnya yang meminjam tanpa mengembalikan soundscape album klasik duo Jepang Boris, Akuma No Uta (2003), di beberapa track. Jatuhnya, bukannya seperti adaptasi Travis Scott terhadap musik Kid Cudi, malah lebih ke Greta Van Fleet terhadap Led Zeppelin.

Lalu, apa tujuan gue berating Bang Kareem yang panjangnya udah kayak latar belakang penelitian ilmiah mengetahui judul artikel cuma berfokus kepada satu single? Well, obviously, i just think you readers need to know where i’m coming from selagi memaparkan satu lagi untaian berukuran latar belakang penelitian berisi peretelan Q4 2021 dan apa arti single ini untuk diskografi BAP..

Pertengahan 2022, Kareem, di bawah moniker Kareem Soenharjo, merilis sebuah EP sepuluh menit bertajuk portofolio, sebuah kumpulan lima instrumental hasil iseng-iseng, i assume, berpendekatan genre ambient. Di dalamnya terdapat aransemen-aransemen gitar akustik penuh dan synthesizer hangat yang semuanya cocok ditempel ke montase-montase reflektif film drama. Salah satu track pun pernah Kareem lebih dahulu perdanai sebagai upaya  scoring ulang adegan penutup film horror folklore A24, The Witch (2015). Uniknya, portofolio merupakan kali pertama gue merasa keganjalan hati Bang Kareem menggetarkan hati gue. Hal ini yang mungkin juga jadi cetak biru untuk Q4 2021 yang baru saja dirilis BAP. 

Katarsis Kareem di portofolio meluap-luap, mensinyalkan kelelahan dan hilang arahnya bahkan sebelum gue baca judul-judul lagunya yang merefleksikan persis mood tersebut. Mereka tersampaikan lewat jelasnya kontra genre EP ini dibanding trayektori diskografi Kareem yang selalu bernuansa hore-hore dan sentuhan produksi semi-lofi dan tape analog goyang-goyang yang membangun landasan konteks suasana keputusasaan distopia. Pula, di ujung lagu penutup, Kareem menyisipkan elemen ritmis tipis yang amat jauh dari tuntutan ramah tamu showcase launching EP di kafe Senopati. portofolio terdengar layak sebuah sesi bernapas/time out Kareem–momen ketika kita akhirnya membanting kedua tangan ke arah keyboard laptop setelah berbohong/pura-pura tidak muak meniup-niup bara motivasi yang kita tahu sudah mati–menambal keputusasaan dengan delusi.

Ulasan Q4 2021

Kejujuran murni serta pendekatan sinematik yang gue temukan di portofolio kembali hadir di Q4 2021. Kareem, terdengarnya, telah menemukan refleksi terakurat akan kondisi putaran roda gigi kepalanya. Pemrosesan produksi single ini minim penggayaan. Kita mendengar piano elektrik, pad ambient kedap, vokal, hingga sebuah keyboard mikrotonal yang tak Ia salurkan kepada efek apapun; ketiadaan balutan tekstur organik maupun lo-fi; hingga sequencing per elemen yang detilnya mampu tertangkap kasat mata ketimbang kompleks layak BAP. biasanya. Pembangunan emosi pun direalisasikan lewat rap tanpa struktur beraransemen repetitif yang berangkat dari satu elemen keyboard, lalu dengan amat perlahan memekar, bagai timelapse shot stock sebuah bunga. Untuk lebih menjelaskan bagaimana lagu ini sebenarnya tedengar, bisa terbilang Q4 menggunakan “alat” komposisi yang serupa dengan lagu Come to Life dari album Donda (2021) Kanye West. 

Di Q4 2021, BAP. pula meluap-luap berefleksi tentang kelelahan lagi–sebuah protes akan kesulitannya menerima bahwa tanggung jawab dari dunia karir akan selalu menyiksanya–mendominasi halaman keseluruhan biografinya tanpa memberi kendor. BAP., semakin lagu mekar pula semakin berapi-api rima yang Ia tembakkan kepada mic, hingga pada buntut Ia mengucapkan mantra berulang: “Gotta get used to it“, sebuah kesimpulan yang cukup disturbing dan tragis.

Q4 2021 menjadi rilisan terorisinil pertama BAP. semenjak intro gak ngotak album Monkshood. Walau di sini Kareem masih mengulang keganjalan pribadi gue soal vokal “berlaga” dan penyajian lirik straightforward-nya yang terkena rentan terdengar ngedumel-nya, arah kreatif yang Ia pilih menjanjikan perubahan tempo yang berhak kita tengok. portofolio dan Q4 2021 cukup menjanjikan tidak adanya lagi intersepsi agenda-agenda “enggak sabaran” tertentu terhadap investasi waktu dan pendalaman para pendengar. Akankah kita mendengar musik, di moniker mana pun Ia sedang hinggap ke depannya, yang seorisinil, sejujur, se-enggakjaim, dan setelanjang single ini dari Bang Kareem?

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *