REVIEW ALBUM: TEEZO TOUCHDOWN – HOW DO YOU SLEEP AT NIGHT?

PERKAWINAN GENRE-GENRE DALAM SEBUAH ALBUM RAP

Teezo Touchdown pada awalnya memikat perhatian pendengar-pendengar baru lewat sumbangan-sumbangan vokal uniknya di lagu-lagu musisi besar layak Tyler, The Creator (RUNITUP), Lil Yachty (the ride-) dan Travis Scott (MODERN JAM). 

Tentu, dari materi yang ada, akan ada tebakan dari pendengar akan kecenderungan gaya suara musik dari Teezo. Namun, album debut studionya How Do You Sleep At Night? yang rilis 8 September lalu berkata lain.

Album berdurasi 14 track dan 40 menit ini amat menggambarkan persona nyentrik yang Teezo Touchdown bentuk sebagai artis. Ia mengaitkan paku di rambutnya, hanya berkomunikasi dengan khalayak lewat tulisan tangan dengan diatas kertas post it

Tampak luar ini cukup menggambarkan gaya suara ekspresif album ini. Dalam kata lain, Teezo menepati janji, bukan false advertising.

Album debut dari Teezo mencurhatkan kisah-kisah sedihnya, mulai dari masalah asmara, keluarga sampai keresahan ia bermusik di umur yang sudah cukup matang (Impossible). Penumpahannya menjadi lirik cenderung mudah untuk dimengerti dan pendengar lebih gampang untuk merasa relevan, dengan beberapa double meaning di setiap baitnya, yang tidak jarang pendengar anggap norak atau corny

Naratif tersebut dibalut dengan suasana tematik layak sedang menonton film Scott Pilgrim vs. The World, High School Musical, mendengarkan lagu-lagu dari band Weezer, Paramore, serta influence musik serupa lainnya, tentu dengan sentuhan orisinil yang belum pernah terdengar sebelumnya.

How Do You Sleep At Night? cocok buat kamu yang kepingin eksplor ke genre-genre selain hip hop dengan tetap mendapatkan rima-rima bersentuhan unik dari Teezo. Memang, mereka kadang terdengar sedikit terdengar cheesy namun, seringnya, wordplay yang cerdik dari Teezo mampu menyelamatkan mereka.

You would’ve thought we were in Aspen how cold your ass been

Everything you say is funny girl, it feel like I’m datin a comedian. Everybody else, I swerve but today, i finally hit the median

Perubahan genre dari tiap track-nya memang sangat menggambarkan persona eksentrik Teezo. Entah itu hip-hop, R&B, disco, boom bap, hingga rock. Bahkan, tidak jarang perubahan-perubahan tersebut terjadi dalam satu lagu. Beat switch yang ia lakukan seolah-olah memberikan kesan Mood Swings seperti judul lagunya. 

Namun, campuraduk antargenre ini tak selalu terdengar mulus. Kecanggungan terdengar di track penutup The Original Was Better, sebuah penabrakan janggal dengan genre EDM ala Marshmello-nya.

Kemampuan adaptasi vokal terhadap genre yang selalu lompat dari ujung ke ujung genre tentu menjadi penting untuk dimiliki Teezo, namun hal ini ternyata tidak menjadi masalah baginya. Contoh saja lagu UHHH, yang kali pertama mendengarkan verse awalnya mungkin pendengar akan merasa suara vokal Teezo terdengar kurang cocok diiringi tabuhan drum ala dekade 80-an sederhana dan genjrengan gitar dengan efek noise di pembukaan lagu. Namun, di verse kedua, kita disambut oleh suara bernyanyi Teezo yang catchy dan angelic, membuat lagu menjadi lebih masuk akal. 

Ke depannya, Teezo memang mampu beradaptasi dengan genre apapun yang Ia tunggangi. Atau, buat kamu yang memang masih aja merasa enggak pas, you’ll probably get used to it.

Album ini mungkin sulit untuk menemukan tempatnya di hati pendengar yang akibat pengungkitan persoalan-persoalan usia dewasa yang dibawa lewat persona kekanak-kanakan Teezo. Namun, satu hal yang pasti, imaji Teezo sebagai seorang karakter terlihat sangat nyata di dalam lagu-lagu ini.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *