"New Cartier" dari Basboi dan Cog Theory

“New Cartier” dari Basboi dan Cog Theory

25 Agustus 2023, Basboi merilis “New Cartier”. Rilisan terbaru dari rapper asal Medan ini hadir dengan membawa sebuah karya yang menyatakan bahwa nge-rap bisa dilakukan dimana saja. Melalui piano pop ballad dan sentuhan orkestra sebagai pengisi latar belakang sound terdengar harmonis. Cukup manis dengan diabetes yang mengawasi. 

Lagu yang digadang akan menjadi pengantar untuk album kedua pria berusia 26 tahun ini menjadi menarik dengan visual yang ditampilkan. Palet hitam putih dan muka babak belur seolah menjadi hal yang berlawanan jika kita menilik judul lagu New Cartier, yakni sebuah nama dari jam tangan yang terkenal melambangkan prestis dan kemewahan. 

New Cartier memberi sebuah gambaran akan harga dari sebuah kesuksesan. Namun apa yang terjadi jika kesuksesan itu sendiri menjadi sebuah malapetaka? Sepertinya itu hal yang ingin Baskara angkat dalam lagu ini.

"New Cartier" dari Basboi dan Cog Theory
Sampul single New Cartier

Impresi New Cartier dari Basboi

Pertama kali mendengar lagu ini kita akan disuguhkan dengan sentuhan lembut sound grand piano. Tidak lupa aransemen disusul dengan sound pluck dan orchestra. Masuk ke bagian chorus, kita akan mendengar Basboi bernyanyi. Membawakan syair pencapaian setelah berhasil membeli sebuah jam tangan baru, namun berakhir dengan ironi. 

Di verse pertama, Basboi mulai melampirkan rapalan yang positif. “Feeling great although he was working late last night.” Verse berlanjut dengan rap dengan nuansa ambisius, mengejar hal-hal duniawi seperti kalung berlian dan cincin emas. Itu semua menjadi tujuan awal dari narasi dalam lagu ini. Namun, kalimat terakhir mengungkapkan bahwa ia telah menjadi bodoh dan hidup bagai sebuah alat. Konotasi habis sepah bisa dibuang menjadi kekhawatiran.

Jeda berbentuk vocalizing hadir untuk membuat Basboi bernapas. Ia seolah tak kuat untuk menceritakan isi hati yang sebenarnya ingin diungkapkan. Dengan musik yang sedikit lebih intens daripada bunyi 808.

Tak berhenti sampai di situ, Basboi kembali menyuarakan hal-hal percuma yang menurutnya berarti. Menyebut lukisan Basquiat, mobil Porsche yang di parkir valet dan tidak akan berhenti meski harus memanjat lebih tinggi. Musik menjadi lebih intens berkat bagian biola yang masuk pada verse terakhir. Kian memanjat, Basboi sembari merapal cita-cita yang lebih tinggi. Kirim uang buat keluarga dan orang-orang yang berarti baginya. Sebagai bentuk cinta, ia bekerja banting tulang tak kenal waktu. 

Sebagai penutup lagu, Basboi mengungkapkan takut akan kehabisan waktu. Ia merapalkan kekhawatiran dalam musik yang makin naik dengan menegaskan kata-katanya yang sedikit terintih dari verse sebelumnya. Takut bila waktunya habis sebelum ia bisa mewujudkan semua cita-citanya. Mungkin bila ia mampu untuk meraih semua yang dicita-citakan, tak akan ada penyesalan sedikitpun atas pengorbanan yang ia lakukan. Namun apakah itu benar-benar yang ia inginkan? 

Jujur saja ketika mendengar pertama lagu ini, saya merasa adanya hal tak biasa dari nama Basboi sebagai seorang rapper. Namun saya tak mau memberikan penilaian yang terkesan men-judge semata atas karyanya. Setidaknya itulah yang saya lakukan.

Ga tahu bagaimana dengan kalian. Untuk sebuah lagu, ini sama sekali bukan hip-hop vibe. Tak ada unsur-unsur yang mendukung hip-hop itu sendiri seperti 808 dan drum sintetis. Tapi coba kita telisik lebih dalam. Pesan lagu ini sendiri berisi sebuah paradoks uang dan waktu. Seperti yang basboi katakan dalam press releasenya. Dan nampaknya ia ingin memberikan sudut pandang lain sebagai seorang seniman dalam presentasi karyanya. 

Bagaimana New Cartier Mengingatkan Akan Cog Theory

Ketika saya mendengar lirik dan musik dari lagu ini, saya teringat akan satu tulisan dari seorang penulis musik di negeri ini. Beliau adalah Nuran Wibisono. Ingatan saya langsung meluncur pada tulisan musik beliau yang berjudul Bagaimana Industri Musik Bekerja Menurut Tommy Lee. Walaupun tulisan tersebut berisi cacian buat musik sampah, namun di akhir beliau menyesali perbuatan itu. Orang-orang industri diibaratkan sapi perah yang, mau tak mau, mereka harus melakukannya. Tak hanya demi hidup diri sendiri, tapi juga bagi seluruh penghuni industri entertainment.

Pada tulisan tersebut, Mas Nuran memaparkan tentang Cog Theory yang dikemukakan oleh Motley Crue. Band hair metal tersebut tertulis bak seorang guru besar rock n roll. Mengungkapkan sebuah disertasi yang mereka kembangkan sendiri dari pengalaman tur mereka. Disebutkan bahwa Cog Theory adalah sebuah usaha untuk menyibak tirai di balik bisnis musik dan mesin uang dalam industri. Gambaran sederhananya ada sebuah mesin yang memiliki beberapa roda sekrup berputar yang terhubung oleh conveyor belt.

Tahap pertama adalah “The Platform and Conveyor Belt”. Dimana dalam tahap ini terdapat banyak daftar artis yang menunggu antrian untuk naik ke dalam sabuk berjalan. Kapan mereka masuk ke tahap pertama ini? Yaitu di saat para musisi membuat album dan berpromosi. Di akhir perjalanan itu ada sekrup pertama yang menunggu untuk di pijaki. Jika mereka bisa melompat ke ke sekrup kedua yang lebih besar, maka itu adalah awal mula kesuksesan mereka. 

Tahap kedua ini disebut sebagai “The First Cog” Namun ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum lanjut membaca. Jika berhasil, mereka bisa masuk ke putaran sekrup ketiga yang lebih besar lagi. Namun jika gagal mereka akan jatuh kembali ke sekrup pertama. Menunggu untuk naik kembali. Resiko yang besar jika para musisi tidak berhati-hati.

Tahap ketiga yang disebut sebagai “The Second Cog”. Sekrup yang lebih besar dan lebih tinggi kedudukannya dari sekrup pertama. Menurut tulisan Mas Nuran, sekali artis, musisi, atau band berhasil melompat kedalam sekrup kedua, mereka akan sadar bahwa mesin ini terlalu kuat untuk dilawan. Mesin ini mampu untuk menghancurkan daging, melumat otot, dan menginfeksi otak. Kalau dicontohkan dalam sebuah band, ego masing-masing personil akan mulai menguat karena mereka sudah punya nama. 

Tahap keempat adalah “The Big Cog”. Tahap paling puncak dalam urutan sekrup ini. Ketika artis masuk kedalamnya, bisa dipastikan bahwa hari-hari mereka berisi tur, promosi, dan bekerja tanpa henti demi menghasilkan money. Namun sayangnya harga yang harus dibayar untuk masuk ke dalam sekrup ini sangat menyiksa. Sebutlah privasi, stabilitas mental, dan cinta. Jangan harap akan ditemukan. 

Setelah semua tahap tersebut selesai, yang terakhir adalah “The Crusher”. Bagian ini ada setelah fase sekrup besar. Beberapa nama bisa bertahan dalam sekrup besar. Namun lebih banyak lagi yang tidak kuat menghadapi tekanan yang diberikan. Yang pada akhirnya terlempar dari mesin. Kembali ke platform awal untuk mengantri atau bahkan hancur terlindas gerinda. 

Lirik-lirik dalam New Cartier yang Menggambarkan Cog Theory

New Cartier menjadi refleksi dari tragedi dalam industri hiburan, terlebih fase “THE SECOND COG”. Lirik pada verse pertama berisi kalimat:

Woke up in the morning and i feeling great
Walaupun malam kemarin i was working late
At least that was what I told myself

Merasa hebat ketiga bangun di pagi hari setelah lembur bekerja. Yap, representasi kalimat yang diucapkan untuk diri sendiri tersebut menjadi penunjuk perasaan bangga setelah bekerja keras. Apalagi pada tahap ini, Basboi merepresentasikan telah melewati tahap pertama dan kedua dalam Cog Theory. Lalu berlanjut ke lirik:

Diamond chain, golden ring
I be running out of breath tuk kejar these things
I be running out the time kejar for these things
I be running like a fool, living like a tool

Kenapa setelah bekerja keras basboi harus merasa bodoh dan hidup seperti alat? Well, apalagi perasaan yang kalian rasakan jika hari-hari kalian berisi kerja, kerja, dan kerja. Jenuh pasti bosan pun jua. Tak salah Basboi merepresentasikan perasaan tersebut dengan hidup yang terasa seperti alat penghasil uang yang dapat digunakan membeli kalung berlian dan cincin emas. Hal ini pun disusul dengan kefanaan dalam verse selanjutnya:

I don’t need much but i want it all
Aku mau Basquiat hanging on my wall
ku mau pake Porsche valet parking in the mall
I will make it to the moon even if i have to crawl

Kefanaan dalam membeli hal-hal tak berguna namun memberi kepuasan tersendiri. Lukisan Basquiat yang diidamkan bisa dilihat pada tembok rumah. Itu menjadi cita-cita fana ketika simbolis tersebut terasa mampu memuaskan perasaan diri dan menjadi pengingat bahwa basboi telah bekerja keras selama ini. Lanjut dengan pelayanan tingkat orang berduit yang dilayani secara khusus bahkan untuk urusan parkir. Ia tak akan berhenti meski harus merangkak naik setinggi-tingginya. Tapi cita-cita fana tersebut tak berhenti hanya di kepuasan diri. Lanjut ke bait berikutnya ketika basboi mengungkapkan cita-cita untuk keluarga sebagai berikut:

Aku mau kirim uang milyaran tiap bulan
Untuk keluarga serta untuk semua handai taulan
Banting tulang, banting dadu
Gentayangan macam hantu
Dari sabtu sampai sabtu, jual diri jual waktu

Di tahap ini, kita bisa melihat ambisi Basboi yang lebih besar daripada bait sebelumnya. Mencoba untuk raih kesuksesan lebih demi berbakti kepada orang tua. Hal itu ia lakukan dengan banting tulang dan adu nasib dalam “banting dadu”. Tak henti kerja tiap waktu dan”gentayangan macam hantu”. Menjadi sebuah roda yang menggerus waktu, tenaga, dan isi kepala seorang artis atau musisi. Bila menilik kepada Cog Theory, maka tahap ini basboi mencoba untuk lompat ke “The Big Cog”. Tak dapat dipungkiri bahwa di tahap ini Basboi mulai merasakan ketakutan. Terlihat dari bait terakhir sebelum penutup lagu sebagai berikut:

I’m so afraid waktuku habis
Hanya demi menambah checklist
I need more time need to feel at ease
But all i got is a nice f**king watch on my wrist

Penyair berakhir dengan hanya sebuah jam tangan yang bagus di tangan tanpa kita dapat merasakan apapun. Bahkan saking takutnya pun, kefanaan ini berubah menjadi suatu ironi. “Swiping my visa to cover my tears up?” menggambarkan sebuah pencapaian yang justru ia gunakan untuk menghapus air matanya sendiri.

Usaha yang telah dilakukan menjadi sebuah hal yang tak berguna. Bila kita coba memperhatikan lebih detail, Basboi merepresentasikan ketakutan itu pada scene video klip di menit ke 2.42. Basboi yang sedang duduk lesu dan Mildwaves di belakang memainkan Grand Piano dengan sebuah sabit yang tergeletak disampingnya. Ia menjadi sebuah peringatan bagi Basboi untuk berkaca tentang bagaimana kejamnya gerigi ini. Masih ingatkah dengan deskripsi tentang gerigi kedua ini? 

Mereka akan sadar bahwa mesin ini terlalu kuat untuk dilawan. Mesin ini mampu untuk menghancurkan daging, melumat otot, dan menginfeksi otak.

Epilog 

Sebuah introspeksi diri terpancar jelas di lagu ini. Penggunaan piano dan orchestra telah merepresentasikan pengantar pesan yang apik. Ia mendukung isi lirik yang merapal pencapaian fana seolah menjadi sebuah angan yang terlampau tinggi. Vocalizing hadir untuk memenuhi alur mood, tidak lupa visual yang sinergis dengan isi lagu. Semuanya selaras dalam menyajikan isi pikiran Basboi.

Menuju album kedua, lagu ini seolah menjadi sebuah pengingat bagi Basboi sendiri. Ia telah mengarungi dunia musik dari 2019 ketika merilis EP pertamanya berjudul Fresh Graduate. Tentu tak sedikit hal yang telah ia lihat dan alami. Hingga titik dimana Basboi telah menancapkan reputasinya di industri musik indonesia dengan banyaknya pencapaian yang telah ia raih.

Saya sendiri mengacungi jempol untuk lagu ini. Karena Basboi telah berani mencoba untuk dan pushing the envelope dalam bermusik. Berhasil pula ia merepresentasikan lagu ini dengan sangat baik. Tak hanya itu, Basboi telah menunjukan bahwa ia tak segan untuk berani tampil beda dan bersuara atas sisi lain dari dunia industri entertainment. Tak banyak orang yang berani seperti ini. Tapi saya yakin tak sedikit pula orang yang terinspirasi akan sosok Basboi. 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *