Keshi Gabriel Album Review

“Gabriel” dari Keshi, Emangnya Boleh Se-Aesthetic Ini?

The Opening

25 Maret 2022 menjadi penanda atas lahirnya album debut Casey Thai Luong. Pria berdarah campuran Amerika – Vietnam tersebut akhirnya unjuk gigi setelah sebelumnya ramai menjadi perbincangan di Soundcloud. Platform berbagi audio tersebut menjadi saksi pertama kemunculan Keshi di tahun 2017. Sekarang Gabriel menjadi album pertama Keshi sebagai seorang musisi. Berisi 12 lagu dengan sentuhan trap penuh aesthetic

Buat pendengar yang pertama kali mendengar lagu-lagu Keshi mungkin akan berpikir sama dengan apa yang saya pikirkan: Musik yang memproklamirkan kehidupan anak muda suburban di bawah remang-remang lampu apartemen tengah kota yang sibuk akan kesibukan individual yang padat, dengan substansi seputar percintaan yang terkadang terdengar cheesy bagi sebagian orang. 

Respon positif para pendengar berhasil ia raih berkat persona aesthetic itu. Walaupun musik yang ia buat sebagian besarnya bernuansa trap, namun ia berhasil mengemas karakter yang kuat dengan aransemen dominan gitar akustik. Hal ini menjadi sebuah pengalaman baru bagi para pendengar.

Sebelumnya Keshi telah merilis empat buah EP dan banyak single secara mandiri maupun berkolaborasi di halaman situs suara awan miliknya. Sekarang, Keshi telah merilis debut albumnya. 

The Album

Pada lagu pertama, kita akan disambut dengan vokal chorus yang berat dari lagu GET IT. Lagu pembuka ala gangsta with migos. Memilih lagu ini sebagai track nomor satu, Keshi ingin menyambutmu dengan teman-teman geng Asia yang sangar namun hangat. Ia memberitahumu bahwa sekarang kamu akan masuk kedalam dunia hasil kerja keras dan ambisi yang dibangunnya. Hal ini juga ia sampaikan di lagu MILLI. Sebuah lagu selebrasi atas usaha dan kerja keras yang telah ia lalui untuk sampai ke titik ini. Tak segarang GET IT memang. Keshi seakan hanya ingin bercerita pada kita selayaknya orang habis pulang dari kantor. Bukan memproklamirkan diri secara tegas seperti di lagu GET IT. Walaupun kamu telah dipersilakan masuk kedalam album Gabriel, kamu tetap harus berhati-hati. Dengan suara sirine pada chorus GET IT seolah yang menjadi pertanda bahwa kamu akan terpesona dan hanyut dalam suasana album ini. 

Saya sendiri mengamini hal tersebut. Sampai akhirnya lima lagu telah berhasil saya dengarkan begitu saja. Keshi berhasil mengemas lagu-lagu tersebut berarus semulus sungai yang menghanyutkan. Tak kaget bila kita akan mendengar tema dari lagu ini yang hampir keseluruhan bertema percintaan. Sebut saja Westside, Touch, HELL/HEAVEN, dan Angel. Masih dengan sentuhan galau versi anak urbannya, Keshi menggaet perasaan itu seperti biasa ia lakukan. Namun berbeda dengan Angel, ia dikemas dengan warna alternative. Overdrive yang membalut petikan senar Stratocaster di posisi pick-up bridge terasa gurih. Keshi menunjukan warna yang berbeda pada lagu ini. Terminologi pada judul lagu Angel nampaknya lebih cocok bila diganti dengan judul Azazel kalau kita perhatikan isi lirik lagunya. Tapi bila menilik kembali kepada aesthetic taste yang Keshi tunjukan, sepertinya nama tersebut akan merusak image kalem yang sudah disajikan. Masa iya judulnya serem lagunya mellow?

Di dalam album ini Keshi seperti tidak mau terlalu banyak rasa galau dalam albumnya. Ia memberi sentuhan panas dan rayuan yang lebih frontal di lagu Somebody dan Angostura. Seakan menjadi kejutan bagi para penggemar Keshi yang dimana ia terbiasa galau soal cinta. Sekarang ia ingin menunjukan sosok yang lebih maskulin dan panas melalui lirik-lirik sensual flirting di kedua judul lagu tersebut. Ia tak ragu menuangkan Angostura sebagai campuran dalam minumanmu untuk melewati malam yang dingin dan merasakan kehangatan darimu. Kemudian ia tak segan merayumu untuk mencoba terperangkap dalam kuncian kakimu, membuatmu berkeringat, dan tak mengijinkan kamu untuk beristirahat di lagu Somebody. Kedua lagu tersebut mengingatkan saya pada lagu Sedang Ingin Bercinta milik Dewa. Aura yang sensual, sangar, dan memabukkan. Berhati-hatilah, falsetto lembut yang mengawang-ngawang mungkin akan membuatmu basah. (Editor’s note: bro ?????)

Sentuhan berbeda tak berhenti sampai disitu. Nyatanya Keshi memberikan sebuah narasi perjalanan seorang ayah yang diberi judul Pere. Dari beberapa sumber yang saya dapat, narasi berbahasa prancis tersebut bercerita tentang perjalanan hidup sang ayah. Coba perhatikan secara seksama. Narasi tersebut terasa seperti puisi yang bersambut untuk lanjut ke sisi ke-2 dari album Gabriel. Selain itu, Keshi mengajakmu bersuka cita didalam alunan gitar Understand. Berisi petikan gitar akustik minimalis dengan gayung simfoni biola. Rasa melankolia hadir memenuhi imaji saat kamu mencoba mendengarkan lagu ini sambil terpejam. Kembali kemasa-masa indah dengan pasangan yang merasuk kedalam sanubari yang telah berlari melewati nadir. Selayaknya sebuah adegan dalam opera sisilia, dimana sepasang kekasih tengah berada dalam ketidakpercayaan bahwa mereka telah menemukan pelengkap yang akan menemani langkah ibadah mereka seumur hidup.

Hingga pada sebuah lagu, Keshi menemukan sebuah titik yang menjadi renungan hidup yang ia jalani. Situasi tidak pasti yang tidak dapat  dikendalikan. Di mana tidak ada kemajuan atau peningkatan. Semua terasa mentok dan menentukan pilihan pun jadi terasa sulit. Rasanya baru kali ini Keshi menjadi sosok yang merenungi suatu hal kehidupan tentang ketidakpastian. Perasaan terombang-ambing layaknya hidup dan mati, terjebak di dalam Limbo, nampaknya menjadi salah satu hal yang ia khawatirkan atas kesuksesan yang telah ia raih dan lika-liku yang akan dihadapi di depan sana. Keberadaan akan kehidupan setelah kematian muncul saat mencoba untuk merenung. Tak ada yang pasti. Layaknya seorang hamba yang berjalan mengarungi gelapnya lorong kematian mencoba untuk meraih nirwana, mencoba kembali kepada Bapa’. Sampai akhirnya Gabriel datang dan menampakkan dirinya ke dunia. Ia hadir untuk menerangkan dan menyampaikan kebajikan kepada manusia. Kabar bahagia atas kelahiran Gabriel dibentangkan dalam alunan piano grand yang hangat. Membawa kabar baik seolah tak perlu khawatir bahwa ia akan membersamai tiap perjalanan hidup  sampai kapanpun. 

The Opinion

Mungkin kamu merasa terganggu dengan kata aesthetic yang saya tulis berkali-kali. Saking kagumnya saya saat mendengar album ini tanpa sadar kata itu terngiang di dalam kepala. Suara bariton falsetto seksi, riff gitar akustik, beat trap, surprising hooks, dan sedikit spoiler eksplorasi alternatif dan narasi yang ia bawakan semua menjadi cerita yang nikmat untuk didengarkan. Kita akan mudah sekali mengenali karakter berkat warna suaranya yang khas. Gabriel telah dikemas kali ini lebih matang dan dewasa, dan Keshi membuat itu menjadi sebuah alur cerita yang hangat dan nyaman untuk didengar. Bila saja ia ingin bereksperimen, mungkin Angel akan menjadi spoiler untuk karya selanjutnya. Siapa yang tahu. 

Namun pembawaan Keshi dari album-album sebelumnya masih memiliki satu benang merah, dimana ia dan estetika persona itu seperti cetakan roti. Bisa dibilang karakter, bisa juga disebut sebagai formula, mengingat album ini adalah album debutnya sebagai seorang musisi. Saya yakin Keshi memiliki bakat dan potensi untuk digali bila ia mencoba untuk eksploratif. Enak? Tentu. Menikmati? Pasti. Jika ada hal eksplorasi soal album ini adalah usaha Keshi yang masih terlihat jelas mencoba keluar arus dari keempat mini album sebelumnya. Ia berusaha mencoba untuk hadir lebih “cool” daripada saat ia masih menjadi musisi YTTA. Pendengar lama Keshi, atau mungkin sebagian besarnya, sudah nyaman dengan Keshi yang mewakili sakit hati mereka kala putus cinta. Namun rasanya Keshi tak ingin pandangan tersebut terlalu melekat pada dirinya sekarang Mungkin itu sebabnya Limbo menjadi anthem dan perenungan di album ini. 

Gambaran dari album ini bisa kita lihat sebenarnya dari keempat mini album terdahulu. Namun dibalik itu semua, perlu kita ingat kembali adalah ini merupakan kali pertama ia menggarap sebuah album. Dengan segala usaha Keshi di album ini, saya bisa bilang bahwa Keshi telah berproses dalam usaha dan perkembangan musikalitasnya. Semoga semangat eksplorasi dan berkembang semacam ini terus dipegang teguh bagi musisi agar tidak membosankan.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *