REVIEW ALBUM : KARA CHENOA – GREEN BANANA

Jika berbicara tentang istilah sophomore, kalian pasti akan membeberkan jawaban yang amat relatif untuk sebuah kata tersebut. Sebuah kata untuk seseorang individual yang memasuki tahun keduanya atau juga sebuah fase transisi dari halaman pertama. Semua musisi akan mengalami masa yang serupa dalam pembuatan karya terbaru setelah karya pertamanya. Hal inilah yang dimana sang musisi yang bernama Kara Chenoa memasuki fase tersebut,

Bagi orang-orang yang penasaran dengan satu musisi berasal Jakarta ini, Kara Chenoa adalah sang musisi yang mempunyai musikalitasnya tersendiri, terutama dengan pembawaan musik yang bercorak R&B dan hip-hop. Ia merintis karirnya dari lantai pertama di penghujung 2010-an dan ia mulai merilis karyanya sendiri secara independen. Bahkan namanya mulai perlahan dikenal ketika ia digaet sebagai rekan kolaborasi oleh musisi-musisi beken seperti Raisa, Rinni Wulandari, Laze, Teza Sumendra, & Jevin Julian.

Selepas Kara Chenoa resmi menjadi artis di STACKS (label subdivisi oleh Warner Music Indonesia), ia akhirnya merilis sebuah mini album terbarunya yang bertajuk Green Banana. Sebuah mini album dengan tracklist yang berjumlah 5 lagu ini memang disuguhkan agak berbeda dari album pertamanya yang dulu. Jika Sunkissed* berbicara tentang aspek matahari untuk kehidupan manusia, maka Green Banana berbicara tentang cinta & realita. Dari penuturannya, Green Banana mewakili sebuah progres pendewasaan yang masih jauh dari fase dewasa yang sepenuhnya.

Mini album yang teranyar ini memang mampu menunjukkan & memperlihatkan perkembangan musikalitas oleh Kara Chenoa pada waktu sekarang ini. Seperti biasanya, ia menggabungkan dua elemen yang berbeda yaitu R&B & hip-hop. Di antara dua ranah tersebut, ia mampu menyuguhkan resep alkemis dalam mini albumnya dan ia juga mencoba suatu terobosan yang segar serta baru.

Untuk pengerjaannya, Kara Chenoa tidak tanggung-tanggung menggaet Monica Karina, sang musisi R&B yang lagi beken-bekennya, & Jason Dhakal, sang musisi asal Filipina. Siapa yang mengurus produksi untuk cocok tanam Green Banana? Ada dua orang yang bercampur tangan di mini album terbaru ini, yaitu Monty Hasan & Kenny Gabriel. Jangan heran kalau kedua orang ini mempunyai sebuah keringanan untuk urusan materi-materi yang berbau R&B.

Dalam pengeksekusian di tiap tracklist-nya bisa dikatakan hampir bagus atau agak lumayan untuk takaran aransemen yang agak catchy untuk didengarkan. Untuk contoh spesifik, sebut saja lagu Simple Crush yang dimana ia menari perlahan antara R&B & hip-hop; rasa nuansa dansa di lagu Missus Superficial (Poison); atau juga elemen ballad sebagai terobosan terbarunya di lagu duet Please Don’t Find Closure. Kalau untuk sisi kelemahan pada mini album ini, lagu Lifetime (Dimension) masih memperlihatkan titik kejenuhan yang bersifat agak mendatar.

Yang menarik untuk dijadikan sebagai salah satu highlight pada mini album ini adalah Fine Line, sebuah lagu yang santai secara penyampaian yang sedikit cemerlang dengan ketukan nada yang terkesan mulus. Bahkan tidak terlepas juga dari nyanyian ala Kara Chenoa yang teramat santai maupun agak sedikit menjiwai. Setidaknya, ia masih mampu membawakan lagu ini secara optimal.

Sepertinya Kara Chenoa lagi mantap-mantapnya mematangkan musikalitasnya. Bagaimana tidak? Seperti judul mini albumnya, ia berada di fase awal dalam permusikannya seperti ibaratnya pisang hijau yang mentah berada di proses menuju pematangan. Kita tidak akan pernah tahu kemana ia akan arahkan musikalitasnya. Tapi yang jelas, ia sedang tancap gas menuju ke fase pendewasaan secara perlahan tapi pasti.

Author’s Cuts : Simple Crush, Fine Line, Missus Superficial (Poison), Please Don’t Find Closure

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *