Benarkah Perbedaan Selera Musik Mempengaruhi Sudut Pandang Kita?

Keith Richards Sebut Musik Pop Adalah Sampah dan Rap Hanyalah Teriakan. Benarkah Perbedaan Selera Musik Mempengaruhi Sudut Pandang Kita?

CERCAAN RICHARDS TERHADAP MUSIK POP DAN RAP

Perbedaan sudut pandang sudah sangat lama menjadi bagian dari manusia. Bahkan kita tak perlu jauh-jauh untuk mencari perbedaan itu sendiri. Lihat saja orang-orang yang berada di lingkungan sekitar kalian. Pasti punya opini dan pandangan yang tak sama. Hal ini juga terjadi sampai masuk ke ranah selera musik. Beberapa waktu lalu sebuah postingan Instagram muncul di beranda saya dengan highlight yang cukup membuat orang tertarik untuk menilik isi konten tersebut. Dalam posting Instagram milik Rich Music Online, tertulis bahwa seorang gitaris legenda, Keith Richards, telah mengungkapkan statement yang beranggapan musik pop adalah sampah.

Itu selalu sampah. Maksudku, itulah intinya. Mereka membuatnya semurah dan semudah mungkin dan karena itu selalu terdengar sama; ada sangat sedikit nuansa di dalamnya,”

Tak hanya itu saja, gitaris dari band The Rolling Stones ini juga mengungkapkan kritikannya terhadap musik rap. Ia berkata bahwa musik rap terdengar seperti orang yang berteriak baginya.

 “Saya tidak terlalu suka mendengar orang meneriaki saya dan mengatakan itu musik, alias rap. Aku bisa mendapatkan cukup dari itu tanpa meninggalkan rumahku.

kata Richards kepada surat kabar Inggris.

Setelahnya saya mencoba mencari sumber artikel lainnya yang berkaitan di internet. Ternyata dua pernyataan tersebut ia sampaikan melalui wawancaranya bersama The Telegraph pada 23 September 2023 lalu. Kritikan ini tak hanya sekali ia ucapkan di kesempatan seperti sesi wawancara kemarin. Nyatanya Richards juga pernah mengkritik hip-hop di masa lalu. Bahkan lebih pedas dari statement terakhirnya. 

Dalam wawancaranya dengan New York Daily News pada tahun 2015, Richards mengungkapkan bahwa apa yang mengesankan dari yang rap lakukan adalah untuk menunjukkan ada begitu banyak orang tuli nada di luar sana. Tak hanya itu saja pendapatnya soal hip hop. Dalam wawancaranya bersama majalah Rolling Stone yang ditulis oleh Kurt Loder pada 3 Mei 2007 lalu juga mengungkapkan pernyataan Richards lainnya soal hip hop.

Sejujurnya, hip hop membuatku kedinginan. Tetapi ada beberapa orang di luar sana yang berpikir itu adalah makna hidup.

Ungkapan Keith Richards soal hip hop mungkin dapat menyulut emosi para penggemar hip hop/rap di luar sana. Bila kita mencoba menilik lebih dalam, apa yang disebutkan Richards tidak sepenuhnya salah. Mungkin tidak semua produser musik maupun musisi mampu membaca partitur dan mengerti istilah-istilah yang terlalu teknis. Namun pada akhirnya mereka dapat membuat lagu yang enak didengar dan laku di pasaran. Selain itu bila kita mencoba untuk memperhatikan pola musik pop, memang pola sederhana itulah yang menjadikan musik pop dengan mudah diterima oleh orang banyak.

Tapi faktanya juga, apa yang dikatakan Richards juga tak sepenuhnya benar. Apakah ia lupa bahwa beberapa penyanyi rock juga melantangkan teriakan dalam lagu-lagu mereka?. Dalam aransemen, lagu-lagu dalam musik hip-hop memang memiliki elemen-elemen penyusunnya sendiri. Seperti suara 808 bass dan chant/teriakan yang memang itu menjadi elemen pelengkap dalam aransemen lagu. Ditambah lagu-lagu hip hop yang memang dulunya menjadi gerakan norma budaya istiadat yang mulai tumbuh sekitar tahun 1970-an. Sayangnya, Keith Richards tidak masuk kedalam budaya hip-hop dan akhirnya ia menilai musik tersebut dari kacamatanya. Dimana ia adalah seorang gitaris band rock legendaris The Rolling Stones. Ia telah diakui oleh dunia bahwa permainan gitar dan perjalanannya musiknya patut untuk mendapat penghormatan. Namun bukan berarti ia tahu segalanya.

Menilik dari persoalan ini, muncul rasa penasaran yang akhirnya menjadi judul pada tulisan ini. 

“Benarkah selera musik dapat memberi pengaruh terhadap sudut pandang kita?”

Alih-alih kita menjadi sok tahu dan malah berlagak layaknya guru, mari kita coba bahas bersama-sama permasalahan satu ini, yang mungkin tidak akan pernah habis untuk dibahas.

APA ITU SELERA?

Kita pasti kerap berasumsi bahwa apa yang menurut kita keren adalah hal yang bagus. Bagaimana kita bisa menilai sesuatu itu bagus? Tentu kita punya pengetahuan dan referensi yang banyak terhadap bidang atau hal yang kita sukai. Misal, seorang pemilik toko alat musik tahu mana alat musik yang layak jual dan tidak. Seorang luthier gitar memiliki wawasan yang luas akan gitar yang baik. Setidaknya mereka memiliki wawasan yang berkaitan dengan bidang yang mereka tekuni, apalagi bila mereka menjadi ahli dibidang tersebut. Karena perbedaan yang beragam inilah akhirnya yang membentuk dan membangun hal yang kita sebut dengan ‘selera’.

Apa itu selera? Menurut kamus besar bahasa indonesia, selera adalah kata lain dari nafsu makan. Dalam aplikasinya, penggunaan kata selera merujuk kepada suatu hal yang menjadi kesukaan yang dapat membangkitkan rasa semangat kita. Misal, ketika kamu pertama kali makan semur jengkol kamu merasakan sensasi legit dan tekstur yang mirip dengan ati ampela ayam. Ternyata kamu menyukai masakan jengkol tersebut. Dan saat kamu memakannya lagi dilain kesempatan, kamu merasakan kenikmatan yang makin menjadi-jadi dan akhirnya kamu berfikir bahwa rasa dari masakan jengkol itu enak. Maka dari itu kamu berfikir bahwa jengkol itu enak. Nah ketika hal ini sudah tertancap di memori kepalamu, maka kamu akan bersemangat dan merasa senang ketika di kemudian hari kamu akan makan masakan jengkol lagi.

Jika coba aplikasikan terminologi ini dalam hal musik, maka bisa diartikan bahwa selera musik adalah sebuah perasaan dimana kita akan menjadi bersemangat atau senang ketika kita melakukan aktivitas yang berhubungan dengan musik kesukaan kita. Sekarang mari kita bahas, bagaimana selera musik kita bisa berbeda-beda satu sama lain. 

BAGAIMANA SELERA MUSIK TERBENTUK

Melansir dari artikel yang ditulis oleh Maya Kusuma melalui hipwee, ia mengungkapkan bahwa menurut Daniel Levitin, penulis buku This is Your Brain on Music yang meneliti hubungan antara musik dan kerja otak, ada beberapa hal yang membuat kita berbeda-beda dalam soal genre musik favorit. Dalam artikel tersebut, tertulis beberapa langkah bagaimana selera musik kita terbentuk. 

Yang pertama, selera musik kita mulai terbentuk sejak masih di dalam rahim. Saat menginjak usia 24 minggu di dalam kandungan, kita mulai dapat mengenali musik. Hal ini disebabkan karena pada usia 24 bulan sistem auditori kita telah berkembang. Di umur ini pula, kita mulai bisa mendengar musik yang dinyanyikan ataupun diperdengarkan oleh ibu kita melalui cairan ketuban. Setelah lahir, kita terus mengembangkan selera musik kita secara sadar maupun tidak. Tapi karena kondisi kita masih kecil tak berdaya, kita mendengar berbagai macam jenis musik yang mampir ke kuping kita.

Pada fase ini kita tak bisa melakukan apa-apa dan hanya sebagai konsumen musik saja yang rela untuk dicekoki segala macam musik. Entah itu dangdut yang diputar oleh tetangga menyebalkan sebelah rumahmu, maupun lagu remix yang setiap hari minggu pagi menjadi lagu pengiring senam ibu-ibu komplek. Hal ini juga didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Deezer. Dimana mereka  mencoba menggabungkan survei terhadap 2.000 orang tua di Inggris yang memiliki anak di bawah usia 18 tahun, dengan tinjauan literatur yang dilakukan oleh Dr. Hauke Egermann dari Departemen Musik di Universitas York. 

Melansir tulisan dari Arman Dhani yang diterbitkan oleh Pop Hari Ini pada 13 Juli 2023, sejumlah 72% orangtua secara aktif mencoba menyukai lagu favorit mereka kepada anak-anak mereka. Dengan persentase 78% lebih banyak dari pihak ayah, dan 69% dari pihak ibu dalam membentuk selera musik anak-anak mereka. Penelitian akademik ini menyarankan bahwa memiliki selera musik yang luas penting untuk sosialisasi dan persahabatan, karena orang yang memiliki preferensi musik serupa cenderung membentuk ikatan. 

Sembilan dari sepuluh (yang berarti 90%) orang tua menganggap penting bahwa anak mereka mendengarkan berbagai macam musik sejak usia dini. Lebih dari setengah responden (57%) mengungkapkan bahwa mereka telah membagikan berbagai genre musik kepada anak-anak mereka untuk mengedukasi mereka tentang berbagai genre musik yang ada.

Hal ini berlanjut sampai di umur 8 tahun, kita memang tidak selektif dan tidak ada filter sama sekali tentang jenis musik apa yang akan kita dengarkan. Bersamaan dengan otak kita yang mulai membangun sistem jaringan, kita juga mulai dapat menyerap informasi dari musik yang kita dengarkan. Di masa inilah bibit selera musikmu mulai muncul.

Yang kedua, kita mulai memilih musik saat memasuki usia 10 tahun. Sebelumnya jika kamu telah mendengar musik tanpa filter, maka di usia 10 tahun selera musikmu akan mulai terumuskan. Seiring berjalannya waktu otakmu mulai menjadi filter dengan menghilangkan sistem saraf yang tidak berguna. Hal ini juga yang menjadi filter buat musik-musik yang kamu dengar. Kita mulai jadi pemilih musik-musik mana yang masuk di telinga kita dan mana yang tidak masuk di kuping kita. Jika ada satu jenis musik yang nyangkut di telinga bahkan sampai ke kepalamu, maka jenis musik itulah yang akan melekat kuat di dalam pikiranmu dan menjadi pembentuk selera musikmu kemudian hari.

Yang ketiga, selera musikmu akan mengikuti sesuai dengan lingkunganmu. Setelah fase menyaring sendiri musik yang ingin kamu dengarkan di umur 10 tahun, saat umurmu 12 tahun selera musikmu justru ditentukan oleh teman sebaya dan lingkunganmu. Di fase ini kamu akan mulai menyadari kalau musik itu bisa jadi bahan obrolan sekaligus (mungkin) prasyarat agar kita dapat diterima oleh kelompok bermain kita. Makanya itu, nggak heran kalau di tahapan ini kamu mulai rajin mantengin acara musik yang sering muncul di TV, trending musik terkini, hingga tangga lagu populer. 

Masa-masa remaja penuh dengan rasa ingin tahu ini dapat menular ke selera musikmu. Apalagi jika kamu punya banyak teman dengan selera musik yang macam-macam. Tentu saja hal ini ikut membuat selera musik kita ikut berkembang. Jika mungkin daftar musik kita yang sebelumnya hanya berisi lagu-lagu dari Mahalini dan Tiara Andini, akhirnya bervariasi dengan tambahan lagu rock, bahkan hip hop seperti Saykoji dan Laze. Jika kamu main lebih jauh lagi, kamu bisa sampai ke pada musik dari BAP dan Ice Cream. Nah Karena kamu udah mulai tahu sedikit banyak tentang jenis-jenis musik, di usia 14 tahun ini kamu juga kamu mulai bisa menyukai dan membenci salah satu genre musik. Misal kamu adalah seorang die-hard fans nya Drake, kamu bisa jadi langsung skip ketika kamu dengar lagu dari xxtentacion.

Dan yang keempat, saat menginjak usia 18 tahun selera musikmu mulai terlihat jelas Suka tidak suka, kamu akan merasakan sedikit perbedaan pada dirimu sendiri. Termasuk soal musik. Kita tak akan lagi menjadi terbuka seperti dulu. Kita menjadi malas mencari tahu band/artis baru maupun warna-warni musik lain. Hal ini disebabkan karena kita sudah nyaman dengan daftar lagu yang kita susun sendiri. Otakmu telah penuh dengan informasi dan pengalaman yang kamu rasakan sebelumnya, sehingga kamu merasa lebih sulit untuk menerima sesuatu hal yang baru. Walaupun tentu saja hal ini bukanlah hal yang baku.

Karena menurut penelitian Deezer yang masih dilansir dari Pop Hari Ini, pembentukan identitas diri menurut teori Erik Erikson dapat terjadi di masa remaja pada usia 13-20 tahun. Setelah itu, individu cenderung akan lebih stabil perihal konsep dirinya. Pada akhirnya disekitar usia 20 tahun mereka sudah bisa memiliki pilihan, nentuin circle, lebih paham taste music yang akhirnya cenderung lebih stabil selera musiknya. Bahkan menurut artikel feature di Pop Hari Ini yang ditulis oleh Aris Setyawan pada 20 Mei 2021, selera musik kita bisa mentok sampai pada usia 30 tahun. 

Selain dari faktor tumbuh kembang dan lingkungan, ternyata dengan adanya teknologi juga memiliki peran dalam pembentukan selera musik kita. Dalam artikel yang ditulis oleh Arman Dhani di Pop Hari Ini, Digital Platform Streaming (DPS) besar seperti Spotify, Apple Music, YouTube Music, dan Tidal hampir sempurna dalam menggunakan algoritma untuk memberikan rekomendasi musik yang sangat akurat dan personal bagi pendengarnya. Sistem algoritma ini mengaburkan batas antara musik yang kita temukan secara alami dan musik yang dipilih secara strategis untuk kita.

Algoritma-algoritma ini memiliki sistem yang jauh lebih mendalam dari sekedar jumlah streaming yang diterima oleh seorang artis atau lagu. Spotify sendiri mengungkapkan bahwa mereka melacak ratusan metrik yang berbeda dari pengalaman mendengarkan pengguna. Termasuk perihal apa yang kita dengarkan dan kapan, lagu-lagu apa yang kita tambahkan ke playlist, kebiasaan mendengarkan orang dengan selera serupa, dan banyak lagi. 

Metrik-metrik semacam ini menggantikan peran pembuat keputusan tradisional di industri ini, menentukan lagu mana yang masuk dalam chart, artis mana yang berhasil, dan genre musik yang didengarkan oleh kelompok demografis tertentu. Dan ketika kita menyelami model-model di balik algoritma-algoritma ini, menjadi jelas bagaimana mereka menghasilkan hasil yang begitu akurat. Tapi sebelum algoritma, lingkungan sekitar terutama lingkar pertemanan masih menjadi pengaruh utama seseorang membentuk selera musik.

BAGAIMANA SELERA MUSIK MEMPENGARUHI SUDUT PANDANG

Dari penjabaran diatas, kita dapat melihat bahwa selera adalah sebuah hasil bentukan dari apa yang pernah kita dengar, pengalaman, dan lingkungan. Bahkan sebuah sistem yang disebut algoritma yang dipersonalisasi oleh kita sendiri pun juga memberi dampak dari pembentukan selera musik kita. Hal ini tentu saja menjadi sebuah gambaran bahwa personalisasi musik yang kita bentuk pun menghasilkan output yang berbeda satu sama lain. Lalu pertanyaannya, bagaimana selera musik mempengaruhi sudut pandang kita?

Pertama yang perlu kita ketahui bersama adalah musik yang kita dengar dapat menjadi sumber dari isi pemikiran dan pemicu untuk menggerakan hati seseorang. Dalam penelitian yang ditulis oleh Beata Evaria Ratnasari berjudul Peran Musik Dalam Ekspresi Emosional Remaja Ketika Menghadapi Masalah Pada Kehidupan Remaja Kampung Panjangsari Baru Parakan Temanggung pada tahun 2016, mengungkapkan bahwa musik adalah media hiburan yang juga sebagai media pengungkap perasaan remaja. Selain itu musik dapat menyembuh perasaan seseorang yang marah, sedih. Setiap orang yang mendengarkan musik akan membawa dampak yang positif dalam mengatur emosi diri, karena musik dapat mengekspresikan diri sesuai yang diinginkan. Musik juga membantu untuk memotivasi diri, semangat hidup, media hiburan, teman curhat, dan hal- hal positif yang lainnya. Singkatnya dari penelitian menunjukan bahwa musik yang kita pilih dapat menjadi pembentuk sekaligus penunjuk ekspresi dari apa yang kita rasakan dan pikirkan. 

Hal ini juga disampaikan oleh Febriansyah dalam tulisannya yang berjudul Bagaimana Musik Mempengaruhi Cara Pandang Kita di Tirto. Ia mengungkapkan studi ilmiah dari Para peneliti di Universitas Groningen yang menunjukkan dalam sebuah eksperimen, bahwa mendengarkan musik sedih atau bahagia tidak hanya dapat membuat orang berada dalam suasana hati yang berbeda, tetapi juga mengubah apa yang diperhatikan orang. Dalam studi tersebut, 43 siswa diminta untuk mendengarkan musik bahagia atau sedih ketika mereka ditugaskan untuk mengidentifikasi mimik wajah-wajah bahagia dan sedih. Ketika musik bahagia dimainkan, peserta melihat lebih banyak wajah bahagia dan sebaliknya berlaku untuk musik sedih. Para peneliti berpendapat bahwa ini bisa jadi karena keputusan perseptual pada rangsangan indera kita, dalam kasus percobaan ekspresi wajah, secara langsung dipengaruhi oleh keadaan pikiran kita. 

Setelah itu, musik juga dapat mempengaruhi tindakan sederhana kita sehari-hari. Contohnya seperti berapa banyak uang yang kita habiskan atau seberapa produktif kita. Orang-orang yang menari dan aktif terlibat dengan musik ditemukan lebih bahagia daripada yang lain, yang tidak terlibat dengan musik. Profesor psikologi dan musik di McGill University di Kanada, Daniel Levitin mengungkapkan bahwa musik dapat memicu hormon oksitosin dan serotonin, yang bertanggung jawab untuk rasa ikatan, kepercayaan, dan keintiman. Tetapi tidak jarang juga, musik malah menjadi pemicu meningkatnya pemikiran agresif atau mendorong kejahatan.

Melansir dari tulisan Nina Avramova di CNN pada 20 Februari 2019, mengutarakan sebuah penelitian di Inggris yang mengeksplorasi bagaimana drill music – genre rap yang ditandai dengan lirik yang mengancam – mungkin terkait dengan kejahatan yang mencari perhatian. 

“Isi dari lagu-lagu ini adalah tentang persaingan geng, dan tidak seperti genre lain, para pendengar mungkin menilai mereka berdasarkan apakah ia akan menindaklanjuti dengan apa yang ia klaim dalam liriknya,”

tutur Craig Pinkney, sang peneliti. 

Namun selain itu, ada beberapa faktor yang menjadi alasan untuk meningkatnya angka kasus kejahatan. Dia menjelaskan bahwa kemiskinan, kekurangan, rasisme, kepemimpinan yang buruk, kurangnya investasi perusahaan, kurangnya peluang dan sumber daya juga berkontribusi menjadi faktor pendukung. Orang-orang yang sudah rentan terhadap kekerasan mungkin tertarik dengan musik kekerasan. Tapi itu tidak berarti semua orang yang menyukai dan menganggap musik itu kejam. Laurel Trainor, profesor psikologi, ilmu saraf dan perilaku dan direktur Institut McMaster untuk musik dan pikiran mengatakan bahwa musik bisa jadi adalah bagian dari warisan biologis kita, bahwa musik tidak hanya memiliki sisi positif untuk ikatan sosial tetapi juga sisi negatif. 

EPILOG

Jika kita coba ringkas penjabaran diatas, musik memancarkan gelombang melalui udara yang memicu hormon dalam tubuh dan menstimulasi otak manusia. Ibarat saklar on/off yang dinyalakan, maka kita dapat memunculkan hormon yang dapat mempengaruhi pikiran sampai tindakan kita. Dan ketika algoritma tubuh yang bisa kita sebut dengan “selera” ini tersenggol, hal ini akan menimbulkan gejolak perasaan dimana kita merasa bahwa hal senggolan tersebut merupakan sebuah ancaman.

Maka tak jarang kita akan melihat fenomena semacam Keith Richards yang mengatakan bahwa musik Pop adalah Sampah. Karena pada dasarnya ia tak mendengarkan musik tersebut atau tidak menyukai pola yang menempel di otaknya. Dan musik rock menjadi rumah serta perlindungan bagi Richards. Ditambah dengan lingkungan richards yang tentu berisi musisi-musisi instrumentalis. Ia tumbuh dengan hal itu, sehingga Keith Richards terbentuk sebagai musisi rock. 

Kurang lebih, mungkin itu yang menyebabkan bagaimana seseorang, bahkan seorang legenda seperti Keith Richards, dapat mengatakan suatu hal yang kontroversial. Ya intinya sih, selera tidak bisa dipaksakan. Perlu kita ingat bahwa kita tidak lahir di jaman dulu dan mereka sudah terlalu capek untuk dengerin musik baru karena faktor U. 

Perbedaan ini tentu akan menjadi topik yang seru dari waktu ke waktu. Obrolan yang tak akan habis dan bisa menjadi perekat hubungan kita dengan teman maupun kerabat. Bahkan bisa menjadi pembuka obrolan untuk berkenalan dengan orang baru. Dengan adanya perbedaan tersebut, kita jadi bisa berbagi dan saling belajar satu sama lain bukan?. Namun selalu ingat, bahwa kita juga harus menyampaikan pendapat kita dengan baik ya. Kalau tidak nanti kamu jadi asik orangnya. Asik sendiri 😛

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *