Terbuka, Album Sophomore M.E Yang Lebih Dari Sekedar One-Hit Wonder

Tahun 1998, tahun dimana Indonesia berada dalam masa keterpurukannya. Mulai dari kerusuhan, pembantaian, krisis ekonomi serta politik, semua itu tak bisa dihindari. Di tengah kekacauan yang kelam, musik menjadi sebuah penopang cahaya yang bersinar. Dengan ambang keruntuhan Orde Baru, permusikan di Indonesia mengalami pergejolakan secara skala besar dimana kebebasan dalam berkarya mulai dipermudah dan semakin terbuka, genre alternatif dan corak musik berbau cadas ikut menggila. Ketika musik Indonesia didominasi oleh menjemurnya grup-grup band bergenre rock dengan corak yang bervariasi, M.E justru turun gunung dengan menyebar virus R&B di Indonesia lewat signature hits mereka yang berjudul Inikah Cinta.

M.E memang bukanlah pendatang baru pada waktu itu, boyband bergenre R&B ini sudah terjun duluan di dunia musik sejak tahun 1991. Didirikan di kota Bandung dengan singkatan eMbung Eleh, grup vokal ini beranggotakan 5 orang pada waktu itu yaitu Denny Saba (tenor), Didan Fitrasakti (tenor), Widi Cipto Utomo (tenor), Fery Martawidjaja (kontratenor), & Irvan Natadiningrat (bass). Awalnya, mereka berlima sudah saling kompak berpartisipasi sebagai kelompok di ajang Festival Vokal Grup Priangan pada tahun 1990 & 1991. Dari dua kali keikutsertaan mereka, kelimanya menjuarai festival tersebut yang juga sama sebanyak dua kali secara berturut.

Berkat prestasi yang M.E raih, mereka mulai mengembangkan kans mereka di kancah permukaan, mulai dari diangkat menjadi musisi tamu untuk DKSB (band pimpinan Harry Roesli), direkrut sebagai host singers di televisi nasional, dan pada puncaknya lagi, mereka berlima mengisi bagian backing vocal untuk lagu tema sinetron yang berjudul Si Doel Anak Sekolahan pada tahun 1994. Dengan latar belakang tersebut turut menunjukkan bahwa grup vokal yang satu ini memiliki potensi yang kuat.

Sampai akhirnya pada tahun 1997, M.E masuk dapur rekaman dan merilis album perdana mereka yang berjudul M.E dibawah naungan Ceepee Production dan diprosuderi oleh Purwacaraka. Album pertama tersebut mengungguli dua lagu yang diciptakan oleh Trie Utami yaitu Kasih Putih & Ada Satu. Hasilnya bisa dibilang lumayan secara segi komersil maupun segi musik. Meskipun nama mereka tidak terangkat secara langsung lewat album pertama mereka, setidaknya kelimanya memperkenalkan diri mereka kepada masyarakat Indonesia.

Setahun setelah kesuksesan yang lumayan dari album pertama mereka, M.E bergerak lagi dengan merilis album kedua mereka yang bertajuk Terbuka. Album yang berjumlah 10 lagu ini dirilis dibawah naungan label Ariola (sublabel dari BMG Music Indonesia) dan didistribusikan oleh RIS Music Wijaya International. Di album sebelumnya, lagu-lagu mereka ditangani oleh musisi-musisi dari luar grup seperti yang dimana lagu-lagu boyband dibuat secara proses kreatif pada umumnya (salah satu contoh terbesarnya adalah Max Martin yang menulis lagu untuk Backstreet Boys & *NSYNC). Tetapi di album sophomore ini, kelima anggota grup justru menulis materi lagu mereka sendiri secara murni dari track awal sampai akhir. Popularitas mereka melejit berkat album tersebut, terutama lagu fenomenal mereka di track pertama.

Salah satu faktor pemicu kesuksesan album kedua ini adalah lagu pembuka album yang judulnya tak lain dan tak bukan yaitu Inikah Cinta. Coba bayangkan saja sejenak ketika kalian tiba-tiba terbangun di pagi hari pada tahun 1998, lalu kalian sedang asyik-asyiknya mengendarai kendaraan untuk kerja, kuliah atau nongkrong bareng temn dan ketika kalian menyalakan radio di kendaraan saat di jalanan, lagu terbaru dari M.E menyerbu ke telinga kalian. Sebuah lagu R&B dengan bumbu pop yang catchy mampu membuat para pendengar menggerakkan badan mereka. Lewat campur tangan dari Iwang Noorsaid (pengarah musik & produser album keduanya M.E), ia mengolah unsur R&B dengan aransemen yang ringan dan easy listening.

Apakah album kedua M.E hanyalah sebatas album dengan lagu one-hit wonder saja? Secara keseluruhan, ada yang lebih dari sekedar lantunan Inikah Cinta dan tidak hanya sampai disitu saja. Ada beberapa lagu yang patut disorot oleh para pendengar awam, sebut saja Rubahlah, Kasih Dengarlah, Hanya Cintamu, Terbuka, Sirna, & Lirih Cinta. Jika kalian dengarkan album ini secara satu per satu, kalian pasti bakal paham penyebab virus R&B menjamur secara terbuka di Indonesia pada akhir 90-an.

Untuk aspek tema alur di album ini, M.E benar-benar mapan untuk urusan lagu yang bertemakan cinta, terutama para kelima anggota yang menulis lagu mereka secara penuh. Tapi di segi aransemen di tiap lagu yang tertera di tracklist mempunyai cara yang agak terkesan bervariatif. Irama ritmik dengan sentuhan sinergis yang jammable di Rubahlah, Dentingan piano yang mellow dengan bayang nyanyian yang syahdu oleh Denny di Kasih Dengarlah, suguhan permainan bass oleh Bintang Indrianto yang melengkapi suasana santai dan sunyi di Hanya Cintamu, nuansa kesunyian yang terasa sedikit minimalis antara lantunan kibor yang terlelap dan nyanyian yang menjiwai oleh Widi di Sirna. Beberapa lagu tersebut serta sebagian lagu lainnya menunjukkan musikalitas M.E secara terselubung dan mereka telah menuangkan potensi mereka pada album kedua ini.

Selain Inikah Cinta yang dimana M.E mampu menempatkan diri mereka ke ranah pop, mereka juga tak luput dari akar R&B yang tetap melekat sejak grup ini berdiri. Terbuka adalah salah satu lagu yang menjadi unggulan kedua pada album ini. Dengan aransemen campur tangan oleh Yudis Dwikorana, lagu ini terdengar hampir murni akan unsur R&B secara sesungguhnya. Tidak heran sang gitaris Guest Band & Sinikini memang ahli di ranah itu yang seakan-akan lagu tersebut terdengar begitu familiar seperti terasa ada sentuhan aransemen dari Jimmy Jam & Terry Lewis.

Meski hampir semua lagu di album Terbuka dipenuhi oleh tema romansa, ada satu lagu yang memuat topik tentang isu lingkungan hidup yang judulnya adalah Sadarkah. Lagu ini menyampaikan sebuah pesan kepada para pendengar bahwa kita sebagai umat manusia harus menyadari akan keindahan & kedamaian alam yang patut dijaga oleh diri kita semua. Tambahannya lagi adalah bagian vokal pembuka dari AGNEZ MO yang waktu itu masih berkancah sebagai penyanyi cilik.

Apa yang terjadi selanjutnya pasca mereka berada di puncak kesuksesan berkat album kedua tersebut? Sayangnya, setahun setelah album ini diedarkan dan popularitas mereka melejit pesat, M.E malah membubarkan diri dan masing-masing mengambil jalan mereka sendiri. Tak lama setelah bubarnya grup boyband tersebut, mereka terpecah menjadi dua kelompok. Untuk Denny & Didan, keduanya membentuk duo yang bernama Denny & Didan dan mereka menelurkan sebanyak 2 album. Namun nama duo yang didirikan pada tahun 1999 tersebut belum mampu menyamai kesuksesan M.E. Bagaimana dengan Widi, Ferry, & Irvan? Pada tahun 2000, ketiganya membentuk sebuah grup yang bernama 9 Seasons dan ditambah lagi dengan bergabungnya Ricky Satwika sebagai anggota grup. Namun sayangnya, grup ini hanya menelurkan satu album saja dan masih belum bisa mengulangi kesuksesan yang mereka raih dulu saat di M.E. Alhasil, keduanya bisa dikatakan gagal, beberapa faktor seperti pergeseran poros musik bisa jadi salah satu penyebabnya.

Sampai beberapa tahun kemudian, Denny, Didan, Widi, & Ferry memutuskan untuk bersatu lagi di grup yang mereka dirikan selama bertahun-tahun, yang tak lain lagi yaitu M.E. Keempat anggota tersebut membuat sebuah kejutan dengan penampilan reuni mereka di ajang Anugerah Musik Indonesia pada tahun 2009. Sejak M.E melakukan comeback mereka dan mempunyai nama baru yaitu M.E Voices, mereka lebih fokus bergiat manggung di berbagai acara ketimbang aktif dalam membuat karya baru seperti di masa kejayaan mereka meskipun mereka masih sempat merilis lagu baru. Tapi ada yang kurang, dimanakah Irvan? Meskipun dirinya tak lagi menjadi bagian dari M.E Voices, ia mempunyai kontribusi yang amat luar biasa sebagai pengarah vokal untuk musisi-musisi papan atas seperti Kris Dayanti, Bunga Citra Lestari, Drive, Hivi!, Andmesh, dan masih banyak lagi.

M.E Voices bisa dikatakan sebagai salah grup musik one-hit wonder di Indonesia yang dimana sebuah grup musik menjadi populer dengan hanya satu lagu saja tetapi tidak dengan seterusnya. Akan tetapi, album kedua mereka meninggalkan sebuah pengaruh terhadap lanskap musik Indonesia. Album kedua M.E Voices yang bertajuk Terbuka bukan hanya sekedar one-hit wonder, tetapi album ini adalah salah satu album R&B yang bersejarah bagi belantika musik Indonesia.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *