Ganteng Ganteng Swag : 8 Tahun Kemudian…

Sekilas pertengahan tahun 2010-an, YouTube menjadi hal yang besar di Indonesia. Sebuah platform dimana semua orang membuat atau berbagi sebuah video, terutama menjadi sarana untuk content creator atau akrab disebut sebagai YouTuber. Ini adalah era dimana YouTuber-YouTuber dalam negeri mulai dikenal luas oleh masyarakat seperti Skinnyindonesian24, Reza Arap, Tim2One, Edho Zell, Agung Hapsah, Bayu Skak, Kevin Anggara, dan beberapa content creator penting lainnya.

Namun apa jadinya jika 3 YouTuber, 2 rapper beken, dan 1 stand up komedian bersatu dalam sebuah kolaborasi? Mereka melahirkan sebuah karya bersama mereka yang bertajuk GGS (Ganteng Ganteng Swag), sebuah lagu yang mengubah segalanya. Inilah sebuah kilas balik tentang sebuah lagu kolaborasi tahun 2016 oleh Young Lex, Jovial Da Lopez, Andovi Da Lopez, Reza Arap Oktovian, Kemal Palevi, & Dycal yang mengguncang satu negeri. Kita akan mengulik bagaimana kolaborasi tersebut bisa terealisasi, apa yang tersirat dari lagu tersebut, dan bagaimana lagu kolaborasi ikonik tersebut mempopularisasikan genre hip-hop ke masyarakat luas.

Latar Belakang

Untuk memahami dan menelisik GGS (Ganteng Ganteng Swag), kita harus melihat ke belakang sebentar pada awal tahun 2010-an. Seperti yang dinubuatkan oleh Saykoji, hampir semua aspek kehidupan sosial akan online pada waktunya, YouTube adalah salah satu sarana sosial media yang memengaruhi kehidupan manusia. Apa yang kalian ingat ketika kalian menonton sebuah video di YouTube pada saat itu? YouTube Poop? Nyan Cat? Kumpulan MLG Montage? PewDiePie? Ray William Johnson? Kalian tidak akan asing tentang tahun-tahun silam tersebut sebelum kata YouTuber menjadi hal yang lumrah di Indonesia.

Selain YouTube, apa saja yang terjadi di skena hip-hop pada waktu itu? Seperti biasanya, perkembangan musik hip-hop di Indonesia berada di level yang stabil, meski bukan genre terbesar di Indonesia. Semenjak rapper-rapper serta grup hip-hop beken dari era pertengahan 2000-an seperti Saykoji, Homicide, Xaqhala, Bagindo, Soul ID, Doyz, Yacko, JFlow, Batik Tribe, & Pandji Pragiwaksono berkancah di belantika musik Indonesia, benih-benih hip-hop mulai bertebaran ke seluruh pelosok negeri, terutama komunitas hip-hop beserta skena underground. Ditambah lagi dengan keberadaan internet, sarana berkarya seperti YouTube, MySpace, & SoundCloud menjadi sebuah sarang bagi musisi pendatang baru. Di tengah perkembangan sosial media yang meluas serta perkembangan skena hip-hop di Indonesia yang menjamur perlahan, Young Lex adalah salah satu benih baru yang memanfaatkan momentum ini.

Sebelum Young Lex dikenal luas serta mempunyai haters dari kalangan masyarakat awam maupun pegiat hip-hop serta kontroversi yang merebak terhadapnya. Ia memulai karir permusikannya sebagai rapper pada awal tahun 2010-an. Sama seperti pendatang baru pada umumnya, sang rapper bernama asli Samuel Alexander Pieter ini mempunyai sebuah potensi yang membuat dirinya menjadi rapper yang amat menjanjikan bagi skena hip-hop di Indonesia. Salah satu orang yang membuat dirinya mendalami musik hip-hop secara serius yakni sang rapper yang bernama Felix.

Jangan heran jika Young Lex pernah memenangkan kompetisi #CityRecords Mencari Talent yang diselenggarakan oleh HiphopIndo.net pada tahun 2012. Sebagai hadiah atas kemenangannya, ia dilibatkan dalam pembuatan lagu bersama Iwa K yang berjudul Ini Gaya Gue dan lagu tersebut dijadikan sebagai soundtrack untuk film yang bertajuk Tak Sempurna. Lewat lagu ini, namanya mulai diperkenalkan secara perlahan. Sampai pada pertengahan 2010-an, suatu hal yang menggegerkan terjadi.

Berawal Dari YouTube, Now We Doi It Better Right

Kita memasuki antara tahun 2015 & 2016, tahun-tahun inilah YouTuber-YouTuber dalam negeri melambungkan nama mereka dan Young Lex baru saja menelurkan album perdananya. Hal ini sedang terjadi jauh sebelum Playboi Carti menciptakan mahakaryanya yang bertajuk Whole Lotta Red, jauh sebelum terbentuknya proyek kolaborasi antara Kanye West & Kid Cudi yang disebut KIDS SEE GHOSTS, dan jauh sebelum Tyler, The Creator melahirkan IGOR di muka bumi ini.

Di tengah momen-momen yang sedang menggila seperti ini, sang rapper menggaet 3 YouTuber yang sedang lagi naik daunnya (Reza Arap Oktavian, Andovi Da Lopez, & Jovial Da Lopez), 1 stand up komedian dari jebolan Stand Up Comedy Indonesia yang bernama Kemal Palevi, & ditambah lagi dengan satu rapper beken sekaligus yakni Dycal.

Apa yang terjadi ketika keenam tokoh tersebut bersatu dalam sebuah karya kolaborasi mereka? Keenam pemuda tersebut menciptakan sesuatu yang membuat geger satu negara. Lagu kolobarasi yang bertajuk GGS (Ganteng Ganteng Swag) adalah lagu yang tidak terduga bagi semua orang, tidak akan ada yang mengira bahwa lagu yang sarat eksplisit ini menjadi sebuah refleksi tentang apa yang sedang terjadi di sekitar mereka pada waktu itu sampai waktu sekarang. Inilah suara hati yang ditumpahkan oleh keenam tokoh masing-masing.

Gamers Ganteng Idaman

Dibuka dengan aransemen yang nyentrik, ini adalah bagian pertama yang dimana Reza Arap Oktovian memperkenalkan dirinya dengan mengecap dirinya sebagai ‘Gamers Ganteng Idaman’ dan ia menegaskan bahwa ia tidak butuh adanya pencitraan dan acuh kepada semua orang yang eneg kepadanya. Verse ini menangkap sebuah momen dimana YouTube Gaming sedang gila-gilanya pada masa itu, Indonesia hampir memasuki fase tren tersebut.

Semenjak PewDiePie membawa gaming sebagai genre terpopuler di dunia YouTube, Muncullah YouTuber-YouTuber berkiblat gaming dan salah satunya adalah Reza Arap Oktovian sendiri. Lihat apa yang terjadi pada akhir 2010-an & awal 2020-an, banyak YouTuber-YouTuber Gaming dalam negeri mulai bergelembung secara luas, sebut saja Windah Basudara, Jess No Limit, MiauwAug, dan masih banyak lagi.

YouTube Lebih Dari TV

Setelah verse pertama, giliran Jovial Da Lopez yang menumpahkan apa yang ia ketahui pada waktu itu, terutama ketika sosial media menggeser media televisi. Pada verse ini, ia juga menuangkan opininya bahwa YouTube adalah sebuah hiburan alternatif sebagai pengganti televisi. Ia menangkap sebuah potret dimana smeua orang jengah akan kondisi pertelevisian di Indonesia sekarang.

Ironisnya beberapa tahun selanjutnya, YouTube bukan lebih dari sekedar TV. Dengan sarana tersebut, media-media televisi, artis-artis selebriti, serta perusahaan korporat memanfaatkan platform tersebut untuk kepentingan mereka masing-masing. Mengkilas balik apa yang Jovial Da Lopez sampaikan memang nyaris benar adanya, platform YouTube lebih dari sekedar platform sosial media saja.

Kita Bukan Serigala, Tapi Boleh Dicoba

Setelah dua verse pertama, kita telah memasuki bagian chorus. Sebuah potongan chorus dimana mereka berenam berunjuk gigi untuk menaklukkan batas. Lewat sebuah platform yang bernama YouTube, mereka-pun langsung berunjuk gigi di depan kamera dan hasil dari upaya tersebut akhirnya terbayar dan nama mereka melambung pesat berkat keberadaan kanal mereka pada waktu itu.

Lewat chorus yang memorable ini, mereka tidak memperdulikan opini-opini dari haters kepada mereka dan tetap tegak berdiri dalam berkarya. Hal yang ironis dari chorus ini ketika keadaan YouTube di Indonesia nyaris berkata lain. Enam wali yang dikiranya akan menyelamatkan kondisi industri hiburan di Indonesia, justru harus tunduk pada dominasi televisi, hanya saja media televisi memanfaatkan kanal mereka di platform tersebut.

Andovi Da Lopez Gak Pernah Mandi

Habis chorus utama, terbitlah verse selanjutnya yang ikonik dari Andovi Da Lopez. Pada bagian ini, ia menuangkan curahan hati yang terasa nyata. Dirinya mengatakan bahwa ia tidak pernah mandi, kata pembuka itu ternyata mewakili potret pengguna Reddit atau dipanggil sebagai Redditor. Ditambah lagi, ia mengungkap bahwa dirinya belum lulus kuliah akibat terlalu sibuk untuk mengejar kariernya sebagai full-time YouTuber.

Setelah menuangkan curahan hati yang terdalam, Andovi Da Lopez melontarkan bahasa eksplisitnya dengan balutan kritik terhadap kondisi acara televisi di Indonesia pada waktu itu. Ia juga mengesalkan tentang kenapa YouTuber-YouTuber dalam negeri yang cukup terkenal dan mempunyai subscribers yang banyak tidak diundang oleh acara-acara televisi sekaligus. Lebih ironisnya lagi, setelah YouTuber-YouTuber tersebut dikenal luas dan diundang ke acara televisi, artis-artis dari TV serta media televisi menyusul ke platform YouTube sebagai salah satu sarana utama mereka setelah itu.

Acara TV Isinya Pembodohan

Sekarang giliran Young Lex menyanyikan bagian verse-nya, yang dimana imej sombong serta angkuh melekat padanya semenjak itu. Meskipun begitu, ia benar-benar mengangkat genre hip-hop ke seluruh masyarakat luas, Sejelek apapun lagu-lagu Young Lex juga sebenci-sebencinya terhadap Young Lex, hal tersebut tidak bisa dipungkiri.

Seperti verse yang disampaikan oleh Da Lopez bersaudara, Young Lex juga menyentil acara-acara televisi yang mempromosikan kebodohan kepada masyarakat Indonesia dan ia melampiaskan kekesalannya terhadap acara-acara televisi yang mengutamakan rating dan uang ketimbang memperbaiki kualitas konten pada program acara mereka.

Sholat Tak Pernah Dilakukan, Mengaji Selalu Dilupakan

Ahmad Kemal Palevi, sang jebolan Stand Up Comedy Indonesia yang berhasil menyabet juara ketiga pada musim kedua. Ia menyanyikan verse darinya tentang pengalaman malang melintang dalam hidup mandiri sebagai stand up comedian. Prestasi yang ia raih di kompetisi SUCI pada tahun 2012 menjadi sebuah bukti konkret akan pencapaian yang ia buat selama ia berkarier di dunia stand up comedy. Ia juga bercita-cita untuk naik haji jika ia mampu untuk berangkat.

Selain pengalaman yang ia bagikan, ternyata ada yang lebih dari itu. Ia mengeluarkan sebuah verse yang bersarat kritik sosial yang dimana banyak laki-laki yang tampan tapi memiliki prestasi yang minim. Sang komedian tidak berhenti disitu, ia juga menyentil anak pejabat yang berbuat sesuka hatinya dan merugikan banyak orang. Ia juga tak tanggung-tanggung membawa pesan tentang pentingnya beribadah dan bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Bagian verse yang sarat akan makna yang terdalam ini masih relevan sampai sekarang, Lihat apa yang terjadi terhadap David Ozora, seorang pemuda yang menjadi korban penganiayaan oleh anak dari pejabat Ditjen Pajak.

Kami Adalah Si Para Gusti, Enam Dibalik Kamilah Wali

Kita akhirnya memasuki bagian verse yang terakhir oleh Dycal. Sebagai hidangan penutup, Dycal membawa sebuah keunikan pada verse yang ia curahkan. Ia memproklamirkan bahwa mereka berenam adalah para gusti yang sedang diminati oleh fans-fansnya serta membawa pengaruh yang signifikan terhadap generasi selanjutnya.

Siapa yang tak akan kira jika Young Lex, Andovi Da Lopez, Jovial Da Lopez, Reza Arap Oktovian, Kemal Palevi, & Dycal membuat sebuah kolaborasi yang akan selalu diingat sebagai lagu hip-hop yang memiliki pengaruh besar bagi dunia maya dan dunia hip-hop, bisa saja menjadi dampak baik maupun buruk. Sebuah lagu kolaborasi yang membuat skena hip-hop di Indonesia turut geger.

After The Thunderstorm

“Everything will change! Or nothing will!” – VNGNC, 2018 –

8 tahun telah berlalu dan semuanya berubah begitu cepat. Pasca perilisan GGS (Ganteng Ganteng Swag), lagu kolaborasi tersebut membawa dampak yang besar, dari yang baik maupun buruk. Namun di waktu yang bersamaan, lagu kolaborasi dari keenam pemuda tersebut juga meninggalkan rekam jejak di dunia hip-hop. Pengaruh yang mereka buat tadi bisa dibilang hampir signifikan dan tak terlekang oleh zaman seiring berjalannya waktu.

Bagaimana dengan kondisi YouTube di Indonesia sekarang? Ya, tidak banyak yang berubah secara ekosistem sejak saat itu. Konten prank, giveaway, klarifikasi, acara settingan, serta hal-hal yang tidak bisa dimasuk akal hingga hal-hal negatif yang masih melekat sampai sekarang. Semua itu memang terjadi setelah halilintar menyambar ke platform sosial media tersebut.

Tapi untuk perspektif dari skena hip-hop di Indonesia, lagu kolaborasi oleh enam pelaku meninggalkan banyak kesan serta kesal. Banyak rapper yang tidak menyambut baik terhadap lagu tersebut, tapi di waktu yang bersamaan, lagu kolaborasi tersebut sukses memperkenalkan genre hip-hop kepada masyarakat awam secara luas dan kemungkinan menginspirasi banyak orang untuk menjadi rapper.

Apa yang terjadi dengan keenam gusti tersebut? Reza Arap Oktovian sudah mempunyai karier yang cemerlang dengan Weird Genius dan ditambah juga dengan dirinya merambat ke dunia akting, Andovi & Jovial Da Lopez pensiun dari YouTube dan mereka kini menjadi bagian dari media outlet milik Najwa Shihab yaitu Narasi, Kemal Palevi memfokuskan kariernya ke dunia podcast dan menjadi host di dua podcast sekaligus (Podcast Ancur & Bertahan Di Industri), Young Lex dibanjiri kontroversi & haters dari kalangan masyarakat luas serta kalangan skena hip-hop di Indonesia dan sang rapper masih konsisten berkarya sampai sekarang, & dengan Dcyal, well, Dycal tetaplah Dycal.

YouTube di Indonesia memang tak lagi sama tapi masa itu adalah sebuah satu masa yang mendefinisikan era 2010-an. Lagu kolaborasi oleh Young Lex, Jovial Da Lopez, Andovi Da Lopez, Reza Arap Oktovian, Kemal Palevi, & Dycal melengkapi ruang waktu di pertengahan 2010-an. Meski tak segemilang dulu, mereka berenam telah membuat sebuah sejarah bagi dunia internet dan skena hip-hop di Indonesia. Wasalam…

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *